Apakah Adu Ayam Pun Termasuk Judi Yang Dilarang?

Apakah Adu Ayam Pun Termasuk Judi Yang Dilarang? Pemerintah sudah menegaskan bahwa segala bentuk perjudian, meliputi aktivitas kasino, pertaruhan di tempat keramaian, dan pertaruhan yang berhubungan dengan adat istiadat di masyarakat adalah dilarang menurut undang-undang.

Namun bukan rahasia kalau di Bali, masih banyak digelar ajang sabung ayam, yang dikenal juga istilahnya Tajen. Tajen diakui ilegal dilaksanakan namun pada kenyataannya masih bisa dilihat meski sembunyi-sembunyi meski itu di pusat kota Bali, Denpasar.

Ritual Agama Hindu Yang Serupa

Tajen meski judi yang dilarang tapi sudah menjadi bagian adat istiadat di Bali. Agama Hindu sebenarnya mengenal tradisi serupa, yang disebut Tabuh Rah. Sebagai ritual keagamaan umat Hindu, Tabuh berfungsi sebagai penyembah atau perang sata. Kurban tetesan darah ayam adalah sebagai pelengkap prosesi dengan tujuan mengusir energi negatif yang akan menganggu kegiatan berikutnya.

Tak ada judi dalam Tabuh meski ayam memang diadu. Ayam yang diadu dan meneteskan darah dianggap suci dan sakral. Tidak ada unsur berlebihan pula saat mengadu ayam karena aduan hanya berlangsung selama 3 babak. Lain halnya dengan Tajen yang memang bisa mengadu ayam hingga mati tak bernyawa.

Pergeseran Makna Tabuh Rah

Tabuh yang dilakukan sebagai rangkaian ritual ibadah agama bukan judi yang dilarang. Agama Hindu pun termasuk yang melarang perjudian Data HK. Terlebih lagi jika perjudian itu melibatkan hewan-hewan tak berdosa hanya demi untuk kepentingan hiburan manusia semata. Tentu siapa yang melakukan akan berdosa.

Namun sayangnya, judi Tajen ternyata malah mendapat dukungan dari masyarakat Bali. Bahkan tak jarang Tajen sengaja dibuat alih-alih sebagai rangkaian ritual Tabuh. Penonton yang datang pun diarahkan untuk menggunakan pakaian adat dan dilaksanakan di area suci pura. Secara keagamaan diarahkan agar penonton merasa aman karena itu rangkaian upacara agama.

Lalu bagaimana dengan aparat polisi? Mereka pun tak dapat menangkap karena alih upacara atau acara sosial ditaruh di muka. Yang datang bisa dari penjuru Pulau Bali terutama jika acaranya besar-besaran. Pergeseran pemahaman ini membuat area judi Tajen kurang dianggap judi yang dilarang.

Agama Hindu Memandang Judi

Agama Hindu membedakan antara berjudi dan bertaruh. Jika objeknya benda mati, maka disebut judi. Kalau objeknya mahluk yang hidup maka itu pertaruhan. Mahluk hidup ini berlaku pula dengan manusia sebagai objek.

Dalam kitabnya, agama Hindu sangat melarang penjudi dan peminum. Bahkan dosanya disamakan dengan orang yang mencuri tapi tersamar. Sesungguhnya judi menimbulkan pencurian, permusuhan dan bertambahnya kejahatan.

Ketidaktahuan Masyarakat Akan Tajen

Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap Tajen sebagai judi yang dilarang memang sangat berat. Orang golongan yang tak tahu ini punya pengetahuan agama yang sangat minim tentang Susila dan Tattwa.

Sangat diperlukan pendidikan agama pada masyarakat pemeluknya bahwa judi, mau menang ataupun kalah, akan memunculkan enam musuh, atau dikenal dengan sebutan Sadripu.

 

Sadripu terdiri dari, Kama atau nafsu berlebihan, Lobha atau sifat serakah, Kroda atau marah, Mada atau mabuk, Moha atau kesombongan, dan Matsarya atau dengki penuh iri dan cemburu. Apabila Anda penjudi beruntung yang menang maka sifat Kama, Lobha, Moha dan Mada. Sebaliknya sisanya dari 6 sifat buruk tadi.

 

Demikian bagaimana sebenarnya Agama Hindu memandang judi yang dilarang. Tidak ada agama manapun membenarkannya, termasuk Hindu. Bahkan jika ditilik lebih jauh seorang Hindu menilai seorang penjudi baik, cepat atau lambat, akan menjadi penganggu di wilayah tempat tinggalnya. Semoga Anda senantiasa terhindar dari hal tersebut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *